Pengaruh Didikan Orang Tua Terhadap Karakter Anak
Widia Rahma Sari – 1152400116 – Ilmu Komunikasi – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas dosen pengampu mata kuliah Pengantar Psikologi Drs. Widiyatmoko Ekoputro, M. A.
Tumbuh kembang anak merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan pertama yang diterima oleh anak adalah pendidikan dari orang tua-nya. Sebagai orang terdekat, orang tua memiliki peranan penting dalam membentuk karakter, sikap, dan perilaku anaknya. Proses dalam mendidik anak ini mencakup segala sesuatu yang diberikan oleh orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bisa berpengaruh pada perkembangan mental, emosional, sosial, dan intelektual anak. Lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar yang baik akan membantu membentuk karakter anak menjadi baik. Pada usia dini, otak anak berkembang dengan cepat, pada saat inilah anak sangat membutuhkan arahan dan pembelajaran dari orang tua. Oleh sebab itu pola asuh yang diterapkan orang tua sangat mempengaruhi perkembangan emosional anak.
Sayangnya, orang tua masa dahulu berbeda dengan orang tua masa sekarang. Hal ini disebabkan karena karakter yang dibawa orang tua masa dahulu lebih kuat daripada orang tua masa sekarang. Hal ini dapat dilihat dari perilaku anak sekarang yang kurang sopan santun dan kurang menghormati orang tua. Padahal seharusnya karakter setiap manusia dari masa ke masa bertambah baik, akan tetapi karakter zaman sekarang jauh lebih buruk.
Sebenarnya lingkungan sekitar juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Pembentukan karakter juga bisa melalui pendidikan karakter yang ada di sekolah. Misalnya, pada saat anak sudah memulai pendidikan dari PAUD, TK, SD, hingga Perguruan Tinggi. Pendidikan karakter adalah proses belajar yang melibatkan perubahan atau perilaku yang dimiliki anak tersebut. Membentuk karakter tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga tetapi juga dari lingkungan sekolah yang mempengaruhi karakter anak.
Beberapa tahun terakhir, banyak orang tua yang mengharapkan anaknya meraih berbagai prestasi akademik maupun non akademik. Dukungan yang dilakukan oleh orang tua itu ada sebagai respon bahwa adanya persaingan yang semakin meningkat dan ketat yang terjadi pada dunia pendidikan maupun dunia pekerjaan. Mereka sebagai orang tua merasa memerlukan semua kegiatan pendidikan itu untuk kebaikan di masa depan tanpa memperhatikan kebutuhan, minat, dan bakat anak. Hal tersebut bisa menyebabkan anak stress akademik.
Untungnya pada masa sekarang, banyak orang tua memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan, sehingga membuat mereka mencurahkan waktu dan tenaganya untuk pendidikan yang baik bagi anaknya. Namun, ketika melakukan upaya ini, banyak orang tua yang melakukan pendekatan pendidikan pasif terhadap anak-anak mereka. Beberapa orang tua memaksa anaknya untuk mengikuti terlalu banyak kegiatan pendidikan. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Salah satunya adalah keinginan orang tua untuk membesarkan anak yang bisa berprestasi, multitasking, dan lain-lain. Dalam konteks ini pendidikan sebenarnya bukan merupakan sebuah tanggung jawab, namun bagaimana cara orang tua menerapkan pola pendidikan dalam bidang pendidikan tersebut.
Sebagian masyarakat masih banyak yang kurang menyadari bahwa pendidikan pertama kali seorang anak itu berasal dari lingkungan keluarganya, terutama adalah orang tua-nya. Pendidikan pada anak menjadi sebuah aspek krusial dimana hal ini memiliki peranan penting dalam pembentukan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk membentuk kehidupan anak di masa depan.
Ada banyak jenis pola asuh yang berbeda-beda, dan masing-masing memiliki dampak berbeda pada anak. Secara umum, ada empat jenis pola asuh yang sering diperkenalkan dalam dunia psikologi: pola asuh otoriter, permisif, otoriter, dan mengabaikan. Masing-masing pola asuh tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan, serta dapat mempengaruhi anak secara berbeda.
1. Pola Asuh Otoriter
Orang tua cenderung sangat menuntut dan mengontrol perilaku anak. Orang tua yang otoriter seringkali menetapkan aturan yang ketat dan mengharapkan anak untuk mematuhi tanpa pertanyaan. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung menjadi pemalu, cemas, dan kurang percaya diri. Meskipun mereka mungkin berhasil secara akademis atau dalam hal ketaatan, mereka sering kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
2. Pola Asuh Permisif
Orang tua cenderung memberikan kebebasan yang lebih banyak kepada anak, dengan sedikit aturan dan pengawasan. Anak-anak yang dibesarkan dalam pola ini seringkali memiliki rasa kebebasan yang tinggi, namun mereka juga dapat menjadi kurang disiplin dan tidak mampu menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Anak-anak ini mungkin tumbuh menjadi individu yang lebih kreatif dan independen, namun seringkali kesulitan dalam mengelola emosi mereka.
3. Pola Asuh Otoritatif
Pola asuh ini dianggap paling seimbang dan ideal. Orang tua yang otoritatif memberikan batasan yang jelas namun juga memberikan kebebasan dan mendengarkan pendapat anak. Mereka memberi anak kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka sendiri, sambil memberikan dukungan emosional yang kuat. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, keterampilan sosial yang baik, serta kemampuan untuk mengatasi stres dan tantangan dengan baik.
4. Pola Asuh Mengabaikan
Orang tua yang mengabaikan anak cenderung tidak memberikan perhatian atau bimbingan yang cukup. Mereka mungkin kurang hadir dalam kehidupan anak atau tidak terlibat dalam perkembangan anak. Anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh ini cenderung mengalami masalah emosional dan sosial yang serius, seperti rasa kesepian, rendah diri, dan kecemasan yang berlebihan.
Orang tua yang memberikan kasih sayang, perhatian, dan pendidikan yang baik dapat menciptakan rasa aman bagi anak, yang nantinya akan mendukung anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Begitupun sebaliknya, orang tua yang menggunakan pendekatan keras dalam mendidik anak, dan tidak memberikan perhatian yang cukup. Hal tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah psikologis yang dialami oleh anak, seperti rasa cemas, rendah diri, dan ketidakmampuan berinteraksi dengan orang lain.
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan komunikasi yang baik cenderung lebih mampu menjalin hubungan yang sehat dengan teman, dan orang lain. Mereka juga lebih mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif dan lebih toleran terhadap perbedaan. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh ketegangan atau kekerasan cenderung menunjukkan perilaku agresif, kesulitan dalam mengelola emosi, dan kurang mampu dalam membangun hubungan yang sehat.
Selain aspek emosional dan sosial, keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak juga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan akademik. Anak yang orang tua-nya terlibat aktif dalam proses belajar mereka cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah. Orang tua yang memberikan dukungan dalam hal waktu belajar, membimbing pekerjaan rumah, atau bahkan berbicara tentang apa yang anak pelajari di sekolah dapat membantu anak untuk lebih memahami materi dan termotivasi untuk belajar.
Keterlibatan orangtua juga dapat memperkuat rasa percaya diri anak dalam menghadapi tantangan akademik. Sebaliknya, jika orangtua tidak menunjukkan minat atau tidak terlibat dalam pendidikan anak, anak-anak dapat merasa tidak dihargai dan kehilangan motivasi untuk belajar.
Kata kunci: Pendidikan karakter, karakter anak, pola asuh