Pengantar Psikologi: Mengenal Lebih Dalam Teori Behaviorisme
Satria Bayu Agung – 1152400117 – Ilmu Komunikasi – Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas dosen pengampu mata kuliah Pengantar Psikologi Drs. Widiyatmo Ekoputro.MA.
Dalam perkembangan ilmu psikologi, behaviorisme muncul sebagai salah satu teori utama yang membawa perspektif unik mengenai pola perilaku manusia. Teori ini lebih berfokus kepada studi pengamatan perilaku secara langsung dan cenderung mengabaikan berbagai aspek subjektif yang sulit untuk diukur dan diamati secara empiris seperti perasaan, pikiran, atau kepribadian.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian teori behaviorisme, sejarah perkembangan teori behaviorisme, tokoh-tokoh berpengaruh, prinsip-prinsip utamanya, hukum hukum dasar behaviorisme, serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme merupakan teori dalam ilmu psikologi yang mempelajari tentang perilaku manusia atau disebut juga perspektif belajar, teori ini juga bersifat eksperimental dan sangat objektif karena bertujuan untuk mengontrol tindakan dan perilaku manusia. Teori behaviorisme menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan proses terjadinya perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai melalui stimulus yang menghasilkan hubungan perilaku reaktif ataupun respon.
Sejarah Perkembangan Teori Behaviorisme
Tokoh utama yang mempelopori dan sering dianggap sebagai bapak behaviorisme adalah John B. Watson. Pada tahun 1913 Watson menerbitkan sebuah artikel yang Ia beri judul “Psychology as the Behaviorist Views It.”, artikel ini lah yang menjadi landasan awal teori behaviorisme digerakkan. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang berfokus pada perilaku yang dapat diamati agar lebih objektif, bukan terfokus pada proses mental yang sifatnya subjektif.
Tokoh-Tokoh Utama Teori Behaviorisme
-
Ivan Pavlov (1849-1936)
Pavlov berpendapat behaviorisme merupakan aliran psikologi yang terfokus pada fenomena fisik dan mengabaikan aspek aspek mental individu. Menurut Pavlov, behaviorisme lebih memusatkan perhatian pada perilaku yang dapat diamati secara langsung, dengan kata lain teori ini lebih menekankan pendekatan pada pengamatan perilaku yang dapat diukur dan diamati.
-
John B. Watson (1878-1958)
Watson berpandangan bahwa sejatinya perilaku dibentuk dengan rangsangan respons melalui pengkondisian. Watson menganggap teori ini lebih objektif dan dapat diobservasi ketimbang pendekatan psikologi yang hanya berfokus pada pemahaman internal dan pikiran manusia.
-
Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Miftahul Ulum & Ahmad Fauzi dalam jurnalnya Teori Behaviorisme dan Implikasinya terhadap Pembelajaran menyebutkan, Skinner mempercayai bahwa perilaku manusia dapat dipahami melalui bagaimana individu merespon stimulus dari lingkungan dan bagaimana konsekuensi yang mengikuti respon tersebut memungkinkan terulangnya respon tersebut di masa depan.
-
Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Mengutip dari jurnal Nur Kolis & Aisyah Fajar P.A yang berjudul Teori Edward Lee Thorndike dan Imam
Al Ghazali Dalam Implementasinya di Pembelajaran Anak Usia Dini,
Thorndike mengemukakan bahwa tipe pembelajaran yang paling fundamental adalah pembentukan koneksi-koneksi antara pengalaman inderawi (persepsi terhadap stimulus atau peristiwa) dan implus-implus saraf yang memberikan manifestasinya dalam bentuk perilaku. Thorndike juga mengemukakan bahwa proses pembelajaran pada manusia dan hewan memiliki kemiripan, maka dari itu Thorndike melakukan percobaan pada seekor kucing untuk membuktikan pendapatnya. Dari percobaan tersebut Thorndike menyimpulkan bahwa behaviorisme adalah hubungan antara stimulus dan respon.
Prinsip-Prinsip Dasar Teori Behaviorisme
-
Berfokus pada perilaku yang dapat diamati, hal ini bertujuan agar perubahan perilaku yang terjadi pada individu dapat diamati agar mudah untuk diarahkan menjadi perilaku yang lebih positif dari yang sebelumnya. Behaviorisme juga hanya terfokus pada perilaku yang dapat diukur secara objektif, bukan pada proses mental seperti pikiran dan emosi karena sulit diukur dengan cara ilmiah.
-
Interaksi antara stimulus dan respons. Prinsip ini diambil dari penelitian Pavlov, perilaku dapat dipelajari melalui pembentukan asosiasi stimulus dengan respons tertentu. Misalnya dapat diasosiasikan seperti seekor anjing yang mengeluarkan air liur setiap kali Ia mendengar bunyi lonceng, karena lonceng tersebut mengisyaratkan bahwa makanannya telah siap.
-
Adanya reinforcement (penguatan) dan punishment (hukuman), Skinner menambahkan bahwa perilaku dapat diperkuat atau bahkan dihentikan tergantung pada konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut. Seperti penguatan positif layaknya pemberian hadiah maka akan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut akan terulang, sedangkan jika hukuman maka akan mengurangi frekuensi perilaku tersebut.
-
Bersifat progresif, teori ini percaya bahwa pembelajaran adalah proses yang terjadi secara berkala atau bertahap, melalui proses pengulangan dan pembiasaan. Dengan adanya praktik yang dilakukan secara konsisten maka perilaku baru akan dapat dipelajari dan perilaku lama dapat diubah atau dimodifikasi menjadi perilaku yang lebih baik.
Hukum-Hukum Pada Teori Behaviorisme
-
Hukum Efek (Law of Effect)
Dikemukakan oleh Edward Thorndike hukum ini menyatakan bahwa perilaku yang menghasilkan konsekuensi positif (reward) cenderung akan diperkuat dan lebih mungkin terulang, sedangkan perilaku yang diikuti oleh konsekuensi negatif (punishment) cenderung akan melemah dan tidak terulang atau ditinggalkan. Hukum ini juga menjadi dasar bagi pemahaman pembelajaran yang bersifat konsekuensi, atau bisa juga disebut prinsip reinforcement.
-
Hukum Latihan (Law of Exercise)
Thorndike juga menjelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan semakin menguat jika sering dilatih dengan konsisten, dan akan kembali melemah jika tidak lagi digunakan.
-
Hukum Pengkondisian (Conditioning Laws)
Hukum pengkondisian sendiri dibagi menjadi dua yakni pengkondisian klasik dan operan.
-
Pengkondisian Klasik,
Ivan Pavlov mengemukakan bahwa stimulus netral dapat memicu sebuah respons tertentu setelah dikaitkan berulang kali dengan stimulus yang memiliki makna, misalnya seperti eksperimen pada bunyi bel atau lonceng yang dikaitkan dengan pemberian makanan pada seekor anjing.
-
Pengkondisian Operan,
Burrhus Frederic Skinner, memperluas teori ini dengan menjelaskan bahwa penggunaan reinforcement (penguatan) untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan sedangkan punishment (hukuman) untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Skinner menekankan pentingnya penguatan positif dan negatif dalam mempengaruhi perubahan perilaku seseorang.
-
Hukum Kesiapan (Laws of Readiness)
Dikemukakan oleh Edward Thorndike, hukum ini menyatakan bahwa kesiapan individu dalam proses pembelajaran atau respons perilaku akan lebih efektif ketika individu berada dalam kondisi yang siap secara mental maupun fisik untuk melakukannya. Kesiapan yang dimaksud mencakup mulai dari keinginan, motivasi, bahkan kesiapan neurologis. Jika individu dipaksa untuk melakukan tindakan tanpa kesiapan maka kemungkinan besar akan timbul penolakan atau bahkan menyebabkan frustasi pada individu tersebut. Thorndike juga menyebutkan bahwa hukum ini menekankan pentingnya kondisi mental dan kesiapan fisiologis dalam memahami efektivitas pengajaran, dan pelatihan, terutama yang berkaitan dengan respons terhadap stimulus.
Aplikasi Behaviorisme Dalam Kehidupan Sehari Hari
-
Penggunaan Reward dan Punishment di Lingkungan Keluarga
Dalam hal mendidik anak, seringkali orang tua menggunakan prinsip operant conditioning. Misalnya, untuk mendorong anak membersihkan kamar, orang tua memberikan hadiah seperti waktu bermain lebih lama (positive reinforcement). Sebaliknya, untuk mengurangi perilaku buruk seperti halnya berkata tidak jujur atau berbohong, mereka dapat memberikan konsekuensi seperti mencabut hak bermain anak tersebut (negative punishment). Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip yang dikembangkan oleh B.F. Skinner
-
Manajemen Perilaku di Sekolah
Seperti halnya dirumah Guru adalah orang tua kedua ketika anak sedang berada di sekolah, maka guru juga berhak menggunakan reward seperti pujian lisan bahkan tambahan poin atau nilai sebagai strategi belajar yang lebih baik. Guru juga berhak memberikan punishment seperti pengurangan nilai atau hak jam istirahat untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan atau tidak baik, misalnya berkata kasar, atau menggunakan ponsel pada saat jam pelajaran berlangsung.
-
Manajemen Perilaku di Tempat Kerja
Penguatan juga sering kali ditemui di dunia kerja, hal ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas karyawan dalam memenuhi target perusahaan. Misalnya, seperti pemberian bonus, pengakuan publik oleh atasan, atau bahkan kenaikan jabatan bila target tersebut tercapai diluar ekspektasi yang diberikan oleh atasan.
Kesimpulan
Teori behaviorisme adalah salah satu fondasi penting dalam ilmu psikologi modern. Dengan fokus pada perilaku yang dapat diamati dan diukur, behaviorisme telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan metode pembelajaran, terapi, dan intervensi perilaku lainnya. Namun seiring berkembangnya ilmu psikologi, teori ini telah dilengkapi dengan pendekatan lain yang lebih memperhatikan aspek kognitif dan emosional manusia.
Dengan memanfaatkan prinsip -prinsipnya, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan perilaku positif, baik dirumah, disekolah, maupun di tempat kerja. Memahami teori ini secara mendalam dapat membantu kita mengenali bagaimana perilaku dibentuk dan bagaimana kita dapat mengubahnya untuk mencapai tujuan yang lebih baik.