
Suara yang tersangkut di batas bisu
Abel menatap kosong ke layar ponselnya, pesan panjang tertulis di sana. Jari-jarinya ragu untuk menekan tombol kirim, kata-kata itu terasa penuh luka, tapi itulah yang benar-benar ia rasakan.
Ia menulis, “Mah, jujur aja aku cape nyembunyiin semuanya. Kadang aku pengen mengucapin apa yang aku mau, tapi aku gak bisa, Mah…”
Ia merasa tercekik, seolah udara di ruangannya jadi sesak setiap kali ia mencoba berkata jujur. Sering kali setiap kali ia ingin bicara, Mamahnya akan mengeluarkan kata-kata yang sudah biasa ia dengar, “Mamah tahu yang terbaik buat kamu.” Tapi bagi Abel kalimat itu seperti palu yang menghancurkan kebebasannya satu per satu.
“Mah, Mamah bisa gak sih gak egois? Aku juga pengen nentuin apa yang aku mau, gak cuma terus-terusan nurutin ego Mamah yang nggak jelas itu, aku mau jadi diri aku sendiri. Terus terang aku cape ngikutin semua kata Mamah.”
Kalimat-kalimat itu terasa pahit. Bagaimana ia bisa mengatakan ini pada ibunya? Tapi kenyataan itu tidak akan pernah bisa terucap. Dia benar-benar merasa terkekang, dan semakin hari keinginannya sendiri terasa semakin hilang dan mustahil.
Ia memikirkan mimpi yang ia pendam lama, yang selalu ia harap bisa didukung oleh ibunya. Abel ingin kuliah, bukan cuma untuk dirinya, tapi untuk masa depannya, dan untuk keluarganya juga. Tapi setiap kali ia mencoba membuka pembicaraan, ibu selalu menyahut dengan ucapan yang menyakitkan, “Nanti kalau udah lulus SMA, kamu langsung kerja ya.” Kalimat itu seolah menghancurkan harapannya seketika.
“Mah… itu bukan kata-kata yang aku mau dengar,” tulis Abel, jari-jarinya gemetar. “Mah aku pengen banget loh kuliah. Aku pengen ngebanggain Mamah, kenapa Mamah gak pernah bilang, ‘Kamu coba cari beasiswa dulu, ya, kalau mau kuliah?’ itu respon yang aku mau Mah.”
Seandainya, pikir Abel Mamah bisa memahami bahwa mimpi besarnya bukan hanya tentang bekerja setelah lulus SMA. Ia ingin mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, ia ingin membuktikan dirinya mampu.
“Mah.. aku tau Mamah gak bisa nguliahin aku, tapi tolonglah aku cuma butuh dukungan Mamah aja. Aku bisa kok kuliah sambil kerja, tapi sama aja, Mamah gak pernah ngedukung aku, aku udah tau itu.”
Abel menghela napas, lelah dengan ketidakpercayaan yang selalu terasa dalam setiap percakapan mereka. Mamah selalu mengukur kesuksesan dengan uang, sesuatu yang bagi Abel bukanlah satu-satunya ukuran hidup yang berharga. Sebelum menekan tombol kirim, Abel menambahkan satu kalimat terakhir yang paling menyakitkan. “Mamah jangan pernah menyalahin aku kalo aku gak pernah cerita ke Mamah. Bisa gak sih Mamah ngasih respon yang baik? Kenapa semua pendapat aku keliatan buruk di mata Mamah?”
Ia terdiam, menahan air mata yang perlahan turun. Jauh di dalam hatinya, ia hanya ingin dipahami, didukung, dan dicintai tanpa syarat, dan tanpa tekanan. Tapi ia juga sadar bahwa mungkin akan sulit bagi Mamahnya untuk mengerti sepenuhnya, karena cara mereka melihat dunia sangat berbeda.
Abel menghapus pesannya. Mungkin tak akan pernah terkirim, tapi bagi Abel, ia sudah bicara, walaupun hanya pada dirinya sendiri.