
Sesuatu tentang rela
Setelah sekian purnama,
rangkaiannya masih tersisa di relung dada,
tertata rapih tanpa jeda,
di iringi oleh sisa waktu yang ada.
Arahnya mulai berkabut sejalan dengan langkahku yang tak menentu,
entah kapan arahnya akan lenyap seperti di santap kelabu.
Dengan serangkaian aksara,
di sana aku menceritakan tentang kita,
pada kisah yang entah akan di bawa kemana,
namun tetap abadi di relung dada.
Mungkin waktu bisa perlahan menghapus tentangmu untuk ku kala itu,
namun sebelum “kala itu” aku telah lebih dulu menulismu dalam puisi ku,
kamu dengan segala yang terkait tentang dirimu akan terus ada di benakku,
karena menurutku mengukirmu dalam bentuk aksara lebih indah,
daripada harus memaksamu untuk terus singgah.
Jika saja senja bisa tampak untuk selamanya aku akan terus mengaguminya,
namun malam datang mengusir senja,
tetapi ini bukan perihal antara malam dan senja.
Kali ini satu insan benci jika harus rela,
sedangkan semesta terus meminta tawa,
padahal rela tidaklah semudah kata,
bukankah kita terlalu sia sia untuk rela dan saling melupa ?
