
Arah yang di cari
Ini kisah “dia”, kisah perjalanan hidupnya yang penuh rintangan.
Yang bertahan setengah mati demi mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan. Hingga sampai saat ini, dia mampu bertahan dengan segala beban. Berusaha berdiri tegak dengan suatu impian, baginya kebahagiaan adalah impian terbesar dalam hidupnya. Namun, kapan? kebahagiaan akan datang menghapirinya.
Dia adalah jiwa yang pintar berbohong. Berbohong melalui perasaan dan perkataannya. Dia juga pintar menutupi dukanya dengan bersikap biasa saja. Seolah dirinya tidak apa apa, dia selalu membohongi semua orang dengan senyuman manisnya.
Saat awal ku kenali sosoknya dia berada dalam kegelapan juga kesunyian yang mendalam, di ruang hampa disertai luka yang sedalam samudra. Entah sudah berapa lama aku melekat dengan sosoknya, parasku terlihat indah dalam bayangnya.
Aku juga di terima apa adanya oleh sosoknya, tak peduli bagaimana penampakannya.
Di pukul dua dini hari, sosok dia sedang bersama insan yang di kelilingi oleh suasana sepi dan sunyi. Menemani seonggok jiwa yang sedang meratapi diri. Tanpa aba aba ataupun tanda perawalan terdengar suara yang mampu memecahkan ke sunyian di antara lorong sepi, suara itu terdengar seperti.
“Kamu tahu siapa diriku?”
Sontak salah satu pihak merasa dirinya di beri pertanyaan, karena hal itu ia memberi suara.
“Tidak, memangnya siapa sebenarnya dirimu?”
Sosok yang pertamakali memulai pertanyaan pun tertawa, setelah itu ia kembali memberi suara.
“Haha sudah lama kita bersama, tetapi kamu tetap tidak tahu siapa aku.” Pihak yang di beri pertanyaan pun perlahan merasa geram dengan pertanyaan yang tak kunjung mempunyai jawaban.
Sosok pemberi pertanyaan memahami lawan bicara yang menunjukan raut wajah kesal. Dan pada akhirnya, dia si pemberi pertanyaan memberi satu jawaban yang tidak pernah muncul sedikitpun dalam benak yang di pertanyakan. Suara mulai di berikan oleh si pemberi pertanyaan yang bersuarakan jawaban seperti. “Saya adalah kamu, sebagai aku.”
Pada saat itu juga jiwa yang memiliki perasaan kalut pun membatu, oleh satu jawaban yang selalu menjadi pertanyaan dalam benaknya dan tak kunjung memiliki jawaban. Namun mengapa dalam seketika jawaban itu datang, tanpa perisapan dalam dirinya. Sosok dia si pemberi pertanyaan kembali menjelaskan tentang pertanyaan yang dia ajukan, terhadap jiwa yang sedang memiliki pikiran tidak karuan. “Bukan sebagai saya yang dalam diri mu itu adalah palsu, karena ia selalu tertawa padahal hatinya pilu. Berusaha tetap tegap berjalan walau hatinya ragu.”
“Terimakasih katanya.” Ucap sosok yang ada di seberang sana, sambil memeluk jiwa yang penuh luka tak kasat mata.
“Saya bangga dapat menjadi sosok aku, yang sudah kuat mengadapi segala rintangan yang berlalu.” Lirih dari sosok yang sedang merayakan diri. Pada saat itu aku mencoba menggenggam, dan mendekati sosok itu yang ku sebut dengan dia. Dengan sisa keberanian yang ku punya, aku melontarkan suara kepadanya. “Jangan pernah pergi, aku merasa aman jika sosok mu ada dalam diri ini.” Aku merasa bingung, mengapa dia memberiku sebuah senyuman dan di akhirnya diiringi oleh sebuah lontaran. “Jika kamu memang ingin seperti itu, maka tolonglah untuk mencintai dirimu seperti saat engkau menyukai sosok ku.” Terlepas dari kata kata yang telah di ungkapkan oleh sosok dia, aku pun kembali termenung.
Kini mata milik jiwa yang sedang memiliki perasaan gambang perlahan tertutup. Hingga tak terasa langit fajar sudah mulai menampakkan dirinya, suara alarm pun sudah bisa terdengar oleh panca indra.
Sinar telah menyoroti mata si pemilik jiwa, dan perlahan insan itu terbangun dari mimpinya. Baginya jika matahari telah muncul maka peperangan telah kembali di mulai, tak cukup lama setelah ia kembali bangun dari tidurnya suara riuh sudah mulai terdengar di telinganya.
Di ruang tengah tempat yang biasanya menjadi tempat berkumpul bagi sebuah keluarga, justru kini terlihat dua orang saling berhadapan dengan wajah merah padam. Suara keras menghantam udara, kata-kata penuh kemarahan saling dilemparkan tanpa ampun. Tangan salah satu dari mereka mengepal erat, menggambarkan ketegangan yang begitu nyata. Di sisi lain, jari-jari menunjuk penuh tuduhan, bergetar di ujung kalimat yang disertai emosi meledak.
Di sekitar mereka, benda-benda kecil gelas, buku, dan bantal terserak di lantai, seakan menjadi korban dari amukan ini. Dinding ruangan terasa semakin sempit, menambah intensitas perdebatan yang tidak ada habisnya. Detak jam di dinding yang pelan seakan menegaskan waktu yang terus berjalan tanpa menunggu solusi dari pertengkaran yang terasa tiada ujung ini.
Baginya situasi seperti ini sudah menjadi hal biasa, terlepas dari hal itu satu jiwa ini kembali menjalankan rutinitasnya. Satu langkah kaki untuk keluar dari perkarangan rumah di berikan oleh jiwa ini, terdengar suara pria paruh baya yang sedang berteriak kepadanya. “Hei kau, jika kamu pulang dengan hasil yang gagal, maka sia sia aku telah membesarkan mu.”
Lontaran itu berhasil membuat jiwa ini menjadi risau, bahkan suasana hati menjadi lebih rancu.
Saat yang telah di tunggu-tunggu oleh insan yang berjiwa pasrah sudah di depan matanya. Melihat hasil yang ia tunggu tunggu dapat membuatnya lesu. Kini pikirannya cenderung kosong, namun beban terasa berat di dada. Waktu seakan berjalan lambat, dan setiap gerakan terasa seperti usaha besar. Hati mungkin terasa datar, tak ada kegembiraan, tapi juga tak ada kesedihan yang mendalam hanya kekosongan yang hampa.
Setelah hari yang panjang berhasil ia lewati, kini jiwa itu sedang bersandar terhadap sosok yang biasa hadir menghampiri. Duduk sejenak di jendela menatap bintang bintang, lalu sosok dia yang ku sayangi mengusap air mata di pipi. Kemudian dia menatapku, dan aku menatapnya kembali dengan pandangan hampa. Saat itu dia mengeluarkan suara, “Kamu ingin bahagia?” Jelas pertanyaan itu adalah satu keinginan terbesar ku. Maka dari itu aku menjawabnya: “Ya aku ingin sekali bahagia, namun aku tidak tahu bagaimana caranya.” Hanya hal itu yang bisa ku utarakan. Tak berharap lebih pertanyaan itu akan memberikan jawaban sesuai yang ku inginkan, meski setidaknya pertanyaan ini berhasil ku lontarkan.
Sosok dia yang ku kagumi akhirnya memberi jawab. “Jika kamu ingin bahagia maka hargai dirimu, karena hal itu bisa membuatmu merasa bahagia. Dan jangan pernah menaruh kebahagiaan terhadap orang lain, bahkan aku sebagai bayangmu sendiri bisa meninggalkanmu dalam kegelapan.”
Tak ada kata kata yang bisa ku lontarkan lagi terhadap sosoknya. Saat itu akhirnya aku menyadari bahwa sosok dia yang ku kagumi adalah bayanganku yang datang di saat aku merasa ragu. Dan ku akui tak ada satupun yang paling jujur menilai diriku, selain bayanganku.
