Failed to load core.php Persahabatan Di Cafe – Prestasi Muda
  • 082226622031
  • dutaprestasimuda@gmail.com
  • Sultan Hadlirin, Jepara, Jawa Tengah
cerpen
Persahabatan Di Cafe

Persahabatan Di Cafe

PERSAHABATAN DI CAFE 

Amelia Novita Gosal 

 

Aku menyesap Vanilla Latte yang telah kupesan. Sesekali, aku memang sengaja minum kopi di cafe cantik ini. Temanku Nina yang merekomendasikan.

Yah, seperti yang dibilang Nina, cafe ini memiliki ambience yang nyaman. Meskipun di jam ramai, tapi cafe ini bisa menawarkan ketenangan yang pas.

Sudah 3 jam aku duduk disini. Aku berniat pulang setelah semua pekerjaan yang aku selesaikan dan setelah menikmati 2 gelas kopi. Sesaat setelah beranjak, aku menabrak seseorang. “Oh astaga, maafkan aku,” aku meminta maaf atas kejadian ini.
Lalu ada suara pria berdehem,” Oke, tidak apa apa. Kamu hanya menabrak. Untung kamu tidak menumpahkan kopi,” balasnya sambil tertawa. Aku menatapnya, ia hanya nyengir. Sekali lagi aku meminta maaf dan kemudian beranjak pergi.

Weekend tiba, aku melajukan mobilku kembali ke cafe itu lagi. Setelah memarkir mobil, aku segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Bergegas aku menuju tempat pemesanan dan sedikit kaget karena pria yang kutabrak tanpa sengaja tempo lalu, menjadi kasir untuk hari ini. Aduh, batinku.
“Selamat sore, eh mbak yang waktu itu kan,” senyumnya. Aku nyengir dan bingung di waktu yang bersamaan.
“Pesan apa,” tanyanya lagi memecah keheningan.
“Eh iya, Vanilla Latte Less Sugar tambah topping whipcream dan caramel drip lalu aku mau Chocolate Chip Ganache cream cake ini ya, sekalian,” jawabku cepat tanpa ragu.
“Waw, pilihan yang bagus, oke ditunggu ya,” senyumnya menawan. Aku mengangguk.
Setelah total 15 menit, aku sudah duduk manis dengan tenang di tempatku dengan suguhan lengkap kopi dan kue kesukaanku.

3 jam berlalu tanpa terasa. Aku diingatkan salah satu pegawai kalau sebentar lagi mereka hendak tutup. Pria yang aku tabrak juga sibuk membersihkan area sekitar kasir.
“Eh iya mbak, maaf aku mau nanya, mas mas itu pegawai disini ya,”? tanyaku polos.
“Oh Pak Rudi. Dia ownernya mbak,” kata si mbak singkat. Setelahnya aku berterima kasih sudah diingatkan dan beranjak pulang.

Oh Tuhan, lembaran proposal untuk hari Jumat dimana ya, batinku sambil mau menangis mencari lembaran penting tersebut. Aku sudah mencari di semua sudut kantor, meja, di rumah, tas, dan bahkan mobil. Ketika hendak mau menangis, aku teringat waktu hari Jumat minggu lalu, aku ke cafe. Apa iya tertinggal? Huft semoga semoga, kataku dalam hati. Tepat pukul 6, aku segera melipir ke cafe tersebut.

Tanpa basa basi, semua pegawai cafe disana kutanya tanpa terkecuali. Mereka mengaku tidak tahu menahu dengan lembar yang aku maksud. Salah satu mbak disana, memberikan ide untuk menanyakan kepada Pak Rudi.
” Pak Rudi sejam lagi baru tiba,Mbak, ditunggu saja ya,” tegur salah satu pegawai cafe sambil membawakan kopiku. Aku mengangguk.

Sejam kemudian, Rudi datang ke mejaku, menyodorkan map kuning dan menyuruhku memeriksanya.
“Alhamdulillah, astaga, terima kasih banyak ya, Mas,” syukurku dengan suara bergetar. Bagaimana tidak, seluruh dokumen itu untuk proyek terbaru yang akan kukerjakan, jika hilang, mending aku ditelan bumi saja.
“Aku harus membalas Mas Rudi dengan apa,” tanyaku.
” Kamu hanya perlu rajin saja datang kesini, dan bolehkan kita berteman,”? tanyanya singkat
” Tentu Mas, dengan senang hati bisa berteman denganmu, sekali lagi Terima Kasih,” Ia mengangguk dan bersiap mengurus lagi cafenya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.