
Permen Ajaib
PERMEN AJAIB
Amelia Novita Gosal
Uangku cuma 100.000? Mana cukup bertahan seminggu, keluhku sambil menatap satu lembar uang merah di atas meja. Kepalaku lantas menjad sakit karena berusaha berpikir keras bagaimana aku bisa mencukupkan kebutuhan sebelum gajian yang kurang lebih seminggu lagi.
Kopi hitam pahit kembali kuseruput. Menjadi penawar rasa stress yang kurasakan. Gula habis, kopi tinggal 5 sachet. Mungkin bisa makan 2 kali saja. Otakku terus berputar.
Setelah pulang dari tempat kerja, sampai depan gang, ada kakek tua nampak melamun. Dagangannya sepi. Badannya ringkih.
” Kek, kakek jualan apa,” aku berbasa basi bertanya.
” Kamu mau apa nak, kakek ada banyak jualan,” tanyanya kembali.
Sebenarnya aku tidak berniat beli, tapi mataku tertuju pada satu permen. Mungkin ini saja. Aku mengambilnya dan bertanya harganya. Si kakek bilang pilihan yang bagus. Ia berterima kasih karena sudah membeli dagangannya.
Sebelum beranjak masuk gang, ia berkata lirih,” Itu permen ajaib. Percaya atau tidak, tapi itu permen yang luar biasa. Gunakan sebaik mungkin,” ketika hendak bertanya apa maksudnya, si kakek telah menghilang.
Aku hendak makan malam dengan lauk yang bisa kuirit irit. Syukurlah tadi ada acara di kantor dan masih banyak makanan yang bisa dibawa pulang. Aku berhasil membawa pulang 2 sayur dan satu lauk. Lumayan ya.
Setelah makan, demi menghemat pengeluaran rokok, aku mengambil permen yang tadi. Mengalihkan rasa ingin merokok, makanya permen menjadi pilihan. Sambil menghabiskan permen, aku mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan. Lucunya, tiba tiba, aku berpikir enaknya kalau stok beras, telur, kopi dan mi bisa aman hingga beberapa minggu kedepan.
Karena kelelahan, aku tidur cepat dan bangun subuh, saat selesai shalat subuh, aku ingin memasak air, alangkah kagetnya bahwa di bawah meja, ada tumpukan beras, telur, kopi dan mie dalam jumlah yang banyak. Aku mengucek mataku, mengecek diri, mencoba yakin bahwa ini bukan mimpi dan ternyata ini semua asli.
Aku senang bukan kepalang. Stok dapur bahkan aman kedepan. Apakah karena permen itu? Setelah sarapan nikmat dengan telur, aku bergegas ke kantor. Tidak sadar aku kembali memakan permen itu sambil menggumam, kapan bisa kasih uang banyak ke orang tua di kampung ya? Kembali aku berbicara di hati dalam perjalanan ke kantor.
Sampai di kantor yang disambut dengan segala kesibukan,pak bos membagikan bonus kepada kami semua. Bonusnya bahkan naik 15%. Aku kembali menyadari, apa ini karena permen itu?
Saat hendak pulang, ternyata permen itu tersisa 2. Aku berencana memakannya saat pulang nanti.
Selesai dengan urusan makan, aku kembali dengan permen itu. Aku tatap permen yang hanya 2 butir itu dan berterima kasih untuk 2 hal yang telah terkabul. 1 permen aku makan dan berharap bisa memliki tabungan untuk menikah kelak. 1 permen tersisa, aku ingin bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Entah terkabul apa tidak, aku tahu seluruh rejeki itu datang dari Allah. Permen ini mungkin salah satu perantaranya. Permen ajaib yang enak.