Failed to load core.php Mereka Semua Menghilang – Prestasi Muda
  • 082226622031
  • dutaprestasimuda@gmail.com
  • Sultan Hadlirin, Jepara, Jawa Tengah
cerpen
Mereka Semua Menghilang

Mereka Semua Menghilang

MEREKA SEMUA MENGHILANG

Amelia Novita Gosal

Aku masih bisa mendengar teriakan seluruh temanku saat mereka semua lenyap dan tidak pernah ditemukan hingga kini.

1 bulan yang lalu, kami ber-enam berencana menelusuri rumah tua yang telah terbelengkai hampir 30 tahun. Ide konyol ini datang dari Rudi. Awalnya aku menolak mentah-mentah ide ini. Tapi entah mengapa, saat hari yang ditentukan tiba, aku malah ikut serta karena bujukan mereka.

Aku sedikit takut dan juga khawatir karena ini daerah asing dan kita semua tidak tahu apakah ada bahaya yang mengancam kami dalam kegelapan. Kami membagi 3 kelompok dan setiap kelompok berisi 2. Aku kebagian dengan Adam.

Kami kebagian menelusuri bagian luar rumah dan sekitarnya, sisanya di dalam.
“Adam, kamu takut?” kataku berbisik.
” Tentu, cuma aku justru penasaran. Jadi yah, aku jadi tidak takut lagi,” katanya dengan santai. Astaga. Dasar pria.

Sekitar pekarangan sudah hampir kita telusuri, dan ternyata, halaman belakang terhubung dengan hutan yang gelap. Jadi demi keselamatan, kami tidak terlalu menelusuri hutan.

Tepat setelah kami memutuskan untuk mau bergabung dengan yang lain, suara teriakan Rudi, Eva, Agung, dan Sari menggema hingga keluar. Jantungku berdegup kencang dan bahkan aku terpaku. Adam yang melihatku pucat dan ketakutan mengatakan sebaiknya dia saja yang memeriksa, dan jika terjadi apa apa tolong telepon pihak berwenang. Jadi, aku menunggu di teras.

5 menit, 10 menit bahkan ini sudah hampir sejam aku menunggu, tapi mereka semua tidak ada yang muncul. Bahkan Adam pun. Aku khawatir dan ingin menangis. Apakah aku harus masuk?

Terlalu takut dan mementingkan keselamatanku, aku menelepon pihak kepolisian. Melaporkan kejadian ini secara rinci dan mereka berjanji akan menjemputku.

Aku memilih menunggu jauh dari rumah itu dan syukurlah semua polisi telah tiba. Aku disuruh menunggu di mobil dan mereka melakukan penyisiran. Namun yang mengherankan hasilnya nihil. Kelima temanku tidak ditemukan dimanapun. Aku menangis sejadi-jadinya dan pingsan.

Setelah rangkaian wawancara panjang dan menjelaskan secara jujur baik kepada pihak kepolisian, orang tua temanku, aku mendapati diriku menjadi trauma. Terkadang, dalam gelapnya malam, aku merasa seluruh temanku mengawasiku dari kejauhan, menunggu penjelasan dan meminta diselamatkan. Semua temanku menjadi orang yang hilang dan bahkan aku terkadang masih bisa mendengar teriakan mereka dalam malam yang gelap dan mencekam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.