Failed to load core.php dunia sedang tidak jahat kau hanya punya diri sendiri sekarang.. Lihatlah dirimu….. APA KAU TAK KASIHAN Lihatlah tubuhmu yang selalu bergetar Ketika semua kenangan masalalumu Kembali berputar menghantuimu tiap saat nya kau yang menarik diri dari lingkungan tenggelam atas semua yang telah terjadi Ketakutan mu saat berbicara dengan Manusia lain…aku tau kau pemalu Bak puteri malu,tapi ini bukan dirimu yang dulu Kemana hilang nya diri itu TIDAK Itu bukan pemalu,tapi itu lah anak kecil yang terperangkap dalam kedewasaan ini dia yang selalu kau abaikan.. apa kau tak kasihan padanya… dia yang selalu melakukan segalanya sendirian sedih susah senang dia rasakan sendiri kesedihan, kesendirian, kesepian, ketakutan, apalagi kenangan masalalu yang selalu saja menghantui nya… Itu semua mengelabuhinya Tapi kau seperti tak menghiraukannya Namun mirisnya kau.. Bersikap seolah semua itu tak pernah ada Apa itu masalah, ap aitu ketakutan, Apa itu kesakitan, kesulitan PANDAINYA KAU MENUTUPNYA DENGAN TAWA… APAKAH KAU SEORANG AKTRIS ATAU KAU SEORANG BINTANG FILM Bagaimana bisa kau menutupi luka-luka mu Dengan tawa mu itu … SIAPA SANGKA kita saja yang dilatih untuk kuat
Siapa yang akan menyelamatkan dirimu,
Karya : Julius Telaumbanua
Di perantauan yang jauh,
Jauh dari tanah kelahiran,
Mencari rezeki, merajut mimpi,
Dengan hati yang tak pernah lelah.
Setiap pagi, langkah tegar menapaki,
Jalan yang asing, penuh tantangan,
Namun semangat tak pernah surut,
Karena harapan selalu menyertai.
Rindu rumah sering datang,
Menghampiri dalam senyap malam,
Tapi anak rantau tahu,
Di sini, ia belajar hidup, belajar berdiri.
Meski jauh dari pelukan ibu,
Dari tawa sahabat lama,
Jiwa ini tetap kuat,
Karena hidup adalah perjalanan.
Di setiap sudut dunia,
Anak rantau menanam impian,
Untuk pulang membawa kemenangan,
Dan mengukir cerita untuk dibanggakan.
]]>Karya : Julius Telaumbanua
Ada apa dibalik dalang cerita itu
Mencengkam semua keinginan besar
Mengorbankan bakat yang menjelma
Menyeret kebohongan yang fana
Rahasia itu akan musnah
Demi mempertahankan kursi Menara
Kepuasaan tendangan yang direlakan
Serdadu-serdadu itu pemeras amatan
Agama yang menjadi taruhan
Apakah pantas ?
Tekak yang menjadi watak
Brutal yang menjadi dangkal
Gundah yang tak kunjung usai
Pereda hati itu datang
Jalan menitih-nitih
Yang bersorak keputusasaan
Ya Allah ya Tuhan kami
Berikanlah jalan yang terbaik
Disaat kami penuh harap jadi
Dengan Impian selama ini
]]>Karya : Julius Telaumbanua
Usai sudah hiruk piruk ibu kota
Hari senggang mulai muncul ke permukaan
Menampakkan batang hidungnya
Setelah sekian lama ku nantikan
Nabastala mulai memutih
Desiran angin terdengar kembali
Burung-burung menyambut hadir
Seolah mengatakan “kini kau kembali”
Penat di tubuh mulai samar
Tergantikan dengan kehangatan
Yang telah lama ku rindukan
Kini, rindu rumah terobati
]]>Dalam tulisan, aku bebas bicara,
Melukis dunia lewat kata yang nyata.
Dalam sepi, aku menemukan suara,
Kata-kata menari seperti angin,
Hobi menulis, menyatukan kita,
Membangun dunia yang penuh kedamaian.
Setiap kalimat adalah harapan,
Menyulam mimpi di antara huruf,
Menulis, aku menuliskan keabadian,
Melepaskan jiwa yang terus tumbuh.
]]>Membendung lelah, menata langkah jauh.
Dengan tangan kasar, tapi hati selembut sutra,
Engkaulah pelita di kala gulita.
Pada malam sunyi, engkau tetap terjaga,
Mengurai mimpi agar kami tak terluka.
Doamu mengalir seperti sungai abadi,
Menyejukkan jiwa dalam hari-hari sepi.
Beban di pundakmu tak pernah kau adukan,
Segala rintangan kau lalui dengan keikhlasan.
Setiap senyummu adalah tameng kekuatan,
Membingkai harapan dalam kehidupan.
Ayah, engkau pahlawan tanpa mahkota,
Mengajarkan cinta tanpa meminta balasan.
Kini kami berjalan di jejakmu yang mulia,
Mewarisi semangat dan cinta tanpa batasan.
]]>Selalu saja ada rintangan
yang hampir membuatku menyerah.
Namun aku berdiri, meski rapuh,
berjanji takkan tumbang sebelum
kulihat senyum mereka lahir dari usahaku.
Aku tak tahu,
apakah jejak ini akan dihargai
atau sekadar berlalu tanpa arti.
Namun aku tak peduli,
karena untuk mereka,
aku rela melangkah meski luka,
mengorbankan bahagia demi cahaya
yang ingin kulihat di wajah mereka.
Hanya satu harapku,
agar perjalanan ini tak mereka lupakan,
agar proses yang menyakitkan ini
berbuah makna di hati mereka.
]]>
Sinarnya lembut, hangat, penuh harap,
Melangkah letih, namun tak pernah lelah,
Membimbing kita hingga tak lagi salah.
Wajahnya pudar, guratan usia,
Namun senyumnya abadi dalam jiwa,
Tangannya rapuh namun kokoh menjaga,
Kasihnya setia tak kenal batas masa.
Dalam diamnya ada ribuan doa,
Mengiringi langkah kita menuju arah yang nyata,
Ibu, sosok cinta yang tak bersyarat,
Membawa hidup ini penuh berkat.
Tak ada balas yang bisa sepadan,
Selain doa dan bakti dalam tindakan,
Terima kasih, Ibu, atas segalanya,
Engkaulah cahaya dalam hidup selamanya.
]]>Karya : Julius Telaumbanua
Kepergianmu……….
Membungkam angan dalam kalbu
Membunuh rasa yang kian tumbuh
Mengukir luka dalam barisan doaku
Biarlah cinta dan kecewa saling beradu
Biarlah mereka tak lagi menyatu
Karena ku tahu…..
Hadirmu candu untuk diriku yang pilu
Jika kau tanya apa yang ku mau
Ku tak akan meminta mengulang cerita bersamamu
Namun, bisakah kau membebaskanku ?
Dari rasa rindu yang membelenggu
]]>Bersama teman-teman pergi ke kantin membeli es krim
Bel istirahat berbunyi membuat suasana menjadi ramai
Itu lah saat saat sang remaja menikmati masa sekolahnya
Namun saat bintang dan bulan menghiasi langit malam
Rasa galau datang melanda diri sang remaja
Bermain handphone namun tidak ada notif dari ayang
Apalagi saat scroll tiktok malah mendapat vidio bucin
Keinginan kuat untuk membanting handphone muncul begitu saja
Lalu datanglah seseorang yang menyatakan perasaannya
Namun sang remaja menolaknya karena rasa malas mendatanginya
Siang bersenang-senang menikmati masa muda
Sedangkan malam berganti menjadi mode galau dengan keinginan besar mempunyai seorang pacar
]]>