Failed to load core.php Antara rasa dan rahasia – Prestasi Muda
  • 082226622031
  • dutaprestasimuda@gmail.com
  • Sultan Hadlirin, Jepara, Jawa Tengah

Antara rasa dan rahasia

Ada saat di mana perasaan tak perlu diucapkan, tapi terus mendesak untuk dirasakan. Seperti itulah yang dialami oleh Abel.

 

Abel selalu suka diam-diam. Dia mengagumi seseorang tanpa pernah mengatakannya pada siapapun, bahkan pada sahabat terdekatnya. Perasaan itu dia simpan rapat, seolah membentuk dinding pelindung di hatinya. Namun, seiring waktu, dia tahu, dinding itu bisa runtuh kapan saja.

 

Semua bermula saat temannya, Nada, tiba-tiba berkata, “Eh, dia ganteng banget, ya. Nanti aku masuk ekskul yang sama aja biar bisa dekat sama dia.”

 

Abel hanya tersenyum samar. Dalam hatinya, ada perasaan asing yang menggelitik, tapi dia mencoba mengabaikannya. Toh, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Lagi pula, siapa yang akan peduli? Ini hanyalah rasa suka diam-diam yang tidak akan pernah terucap.

 

Namun, waktu terus berjalan, dan Nada benar-benar masuk ke ekskul itu. Seperti sebuah takdir yang tidak bisa dihindari, Nada mulai dekat dengan cowok yang Abel suka. Hubungan mereka terjalin, tanpa pernah Abel tahu kapan semuanya mulai berubah menjadi lebih serius. Abel sempat berpikir, “kok bisa si mereka secepat ini”.  Hari-hari berlalu, dan Abel melihat mereka semakin sering bersama.

 

Suatu hari, saat hendak masuk ke ruang latihan, Abel melihat cowok itu dia berdiri di depan pintu, tersenyum seperti biasanya dan cowok itu tiba-tiba mengelus kepalanya. Seketika, perasaan yang selama ini coba ia pendam muncul kembali. “Dia udah punya cewek, kenapa masih begini sama aku?” batin Abel bertanya-tanya.

 

Mereka sempat saling bertegur sapa. Seperti biasa, tidak ada yang spesial, hanya obrolan ringan yang menenangkan. Tapi dalam hati Abel, ada perang yang tak bisa dia redam. Dia tahu, cowok itu tidak pernah untuknya. Namun, perhatian kecil yang ia terima, obrolan singkat di tengah keramaian, semuanya seperti bara yang terus memanaskan hatinya.

 

“Dia tahu nggak ya, aku suka sama dia?” Abel sering berpikir begitu. Tapi jawabannya tetap sama tidak ada yang tahu. Semua rasa itu hanya miliknya sendiri, tak terucap, tak tersampaikan. Seperti lagu lama yang terus berputar dalam pikiran, tanpa pernah menemukan ujung.

 

Meski perih, Abel belajar menerima kenyataan. Kadang, tak semua perasaan harus dimiliki atau diungkapkan. Mungkin dia hanya bagian dari perjalanan, bukan tujuan. Dan Abel tahu, pada akhirnya, meskipun sakit, dia akan baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.