Antara rasa dan rahasia 2
Hari itu sekolah mengadakan acara menginap yang membuat semua siswa bersemangat. Abel tak sabar menunggu momen masak-memasak bersama teman-temannya. Namun, rencana itu mulai berantakan ketika temannya, Tacha, terlalu lama bersiap. Setelah menunggu tak kunjung ada kabar, Abel akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah.
Saat tiba, Abel menerima pesan dari Tacha yang mengajaknya bertemu. “Kamu di mana sih, Bil?” tanya Tacha. “Aku di sekolah, soalnya kamu lama banget!” jawab Abel, merasa sedikit kesal. Tak lama setelah itu, cowok yang selalu membuat jantung Abel berdebar muncul di parkiran.
“Eh, kamu mau kemana?” tanya Abel, berusaha terdengar santai. “Tacha nyuruh aku ke rumahnya. Dia nggak bisa masak. Mau ikut?” jawabnya. Jantung Abel berdebar lebih kencang. “Oh yaudah, ayo aku ikut!” jawabnya, tanpa pikir panjang.
Dibonceng oleh cowok yang disukainya, perasaan campur aduk menyelimuti Abel. Di satu sisi, ia senang bisa dekat dengan cowok itu, tapi di sisi lain, rasa bersalah menghantuinya. “Gimana kalau Nada tahu? Mereka kan dekat,” pikirnya.
Sesampainya di rumah Tacha, suasana menjadi lebih ceria. Abel dan cowok itu mulai memasak, sambil bercerita tentang hal-hal acak. “Eh, tahu nggak? Aku suka banget sama kucing,” ungkap Abel, mencoba mencairkan suasana. Mereka tertawa dan saling berbagi cerita, membuat Abel merasa semakin dekat dengan cowok itu.
Namun, di balik tawa, keraguan terus mengusik pikirannya. “Apakah Nada akan marah?” batinnya. “Mereka mungkin emang ga pacaran, tapi akuga enak ” Meski perasaan itu ada, Abel berusaha untuk menikmati momen berharga ini.
Ketika masakan sudah siap, Abel merasa puas sekaligus cemas. Selesai memasak, mereka bersiap kembali ke sekolah. “Gimana kalau Nada tahu kita bareng?” tanyanya pada diri sendiri. Namun, saat tiba di sekolah, semua keraguan itu seakan sirna ketika melihat senyuman cowok itu.
Momen indah di dapur Tacha akan selalu menjadi kenangan spesial. Abel menyadari, kadang momen tak terduga membawa perasaan yang tak terduga pula.